Manten Kucing :Menurut cerita, tradisi tersebut diawali oleh seorang yang benama eyang Sangkrah. Kala itu terjadi musim kemarau panjang yang membuat persawahan, sungai, dan telaga kering. Warga yang mayoritan petanipun resah. Beberapa ritualpun telah dilakukan, tetapi hujan tidak setetespun turun.
Ditengah kegelisahan tersebut, tanpa sengaja eyang Sangkrah mandi di sendang. Tiba-tiba kucing Condo-mowo (Kucing yang memiliki tiga warna berbeda) ikut mandi denganya.
Sepulang eyang Sangkrah memandikan kucing peliharaanya di telaga, tak lama itu di kawasan desa Pelem turun hujan deras. Warga yang menunggu-nunggu hujan turunpun sangat bahagia. Semenjak itu, warga desa Pelem meyakini bahwa hujan turun berkaitan dengan eyang Sangkrah yang baru memandikan kucing peliharaanya.
Ketika desa Pelem dijabat Demang Sutomejo pada tahun 1926, kemarau panjang melanda desa ini lagi.Saat itulah eyang Sutomejo mendapat petunjuk untuk memandikan kucing di telaga. Maka eyang Sutomejo mencari dua ekor kucing Condo-mowo yang diambil dari arah barat dan timur desa. Kedua ekor kucing tersebut kemudian di mandikan di Coban. Dan beberapa hari setelah memandikan kucing, hujanpun mengguyur desa setempat.
Sejak saat itu, ketika desa Pelem mengalami kemarau panjang, warga akan meminta kepada kepala desa untuk mengadakan ritual Temanten Kucing.
Sumber : Dari Berbagai Sumber