Tiban

Ritual Tiban atau tari Tiban

Berasal dari kata dasar “tiba” bahasa Jawa yang berarti “jatuh”. Tiban mengandung arti timbulnya sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Dalam konteksnya dengan peristiwa tersebut, maka tiban di sini menunjuk kepada hujan yang jatuh dengan mendadak terjatuh dari langit. yang dalam percakapan sehari-hari disebut udan tiban, udan = hujan .

Tiban merupakan tari atau ritual rakyat yang turun temurun menjadi bagian kebudayaan masyarakat Jawa Timur, terutama pada daerah Trenggalek, Blitar, Kediri dan Tulungagung. Tari Tiban selalu dipertujukkan saat musim kemarau. Tarian tiban adalah sebuah permintaan permohonan kepada yang maha kuasa berharap untuk diturunkanya hujan. Ada makna dalam dibalik ritual tarian tiban yaitu sebuah harapan sebuah pesan yang luhur demi lestarinya alam. Bukanlah kekerasan yang ditonjolkan melainkan nilai-nilai luhur atau sebuah pesan untuk menjaga keseimbangan alam.

Peranan Sekarang :
Saat ini jaman semakin maju dan banyak mengubah struktur kehidupan di segala bidang. Selera manusia berubah. Kebutuhan manusia pun dengan sendirinya ikut berubah juga. Ilmu pengetahuan dan menyingkirkan kepercayaan yang dianggap tak temunalar (ira- sionil).
Namun demikian upacara ala tiban minta hujan tetap dipelihara kaum petani di pedesaan di daerah Tulungagung, Trenggalek, Kediri dan Blitar. Hanya untuk tidak ketinggalan jaman, kelompok kelompok tiban sekarang sering bermain untuk mengisi acara-acara tertentu, misalnya untuk suguhan tamu negara, untuk pariwisata, peringatan hari-hari nasional dan upacara lainnya seperti yang diuraikan di bagian awal tulisan ini. Jelasnya, di samping peranannya yang lama sebagai inti upacara minta hujan yang sudah klasik itu, masih berperan lagi sebagai sarana hiburan, dalam hal ini tiban benar-benar berfungsi sebagai permainan yang sesungguhnya dalam arti kata yang murni.